Archive for March, 2009

Post

Bangun Pagi…

In tak jelas maunya on March 6, 2009 by suararynal

Post

LIKEE and CAE

In macam pengamat aja on March 3, 2009 by suararynal

tak sengaja kutemukan kedua kata ini waktu kebosanan melanda melihat tontonan acara televisi yang hanya berkutat pada masalah masalah perselingkuhan, perceraian,kampanye politik yang selalu mempropagandakan kalau tak memilih dia atau partainya maka negara bakal semakin hancur, perang yang tak berkesudahan yang berkecamuk dimana mana dan beragam hal lainnya yang selalu menebarkan kebencian,kemarahan serta aura negative yang tak berkesudahan,

remote yang sekarang menjadi berada dalam genggamanku pun dapat kuperintahkan untuk menuju satu saluran kesaluran lainnya saat tiba tiba ketika meluncur ke TVRI NAD aku pun terhenti sejenak untuk memperhatikan program apa ini? pengajiankah tapi kenapa bukan hari jumat?

penasaran dengan tayangan ini, kemudian aku mencoba lebih lama untuk bertahan di saluran yang selama ini hanya menjadi pelengkap penderita pada televisiku,dan tanpa disadari jarikupun tak mau bergerak untuk memencet tombol yang ada pada remote digenggamanku.

Acara ini disebut dengan nama Likee Aceh, atau kalau diindonesiakan sama dengan Dzikir ala Aceh yakni petuah petuah yang berisi tentang kebajikan kebajikan dan hal hal yang pantas untuk dilakukan oleh setiap umat manusia yang ada dimuka bumi ini.

disajikan dengan cara seperti bernyanyi dalam irama menaik dan menurun dan kadangkala diselingi dengan improvisasi improvisasi kecil dari para pelaku semakin membuatnya bertambah greget, dan yang lebih menakjubkan adalah kalau content dari dzikir ini yang sebenarnya sangat berat disajikan dengan ringannya diselingi dengan humor humor yang humanis dan sopan.

Pada TV Aceh salah satu televisi lokal yang ada di Aceh ada acara yang sedikit mirip tapi tak bisa dikatakan sama yakni CAE Aceh atau Syair Aceh, yang disajikan dalam pantun pantun yang penuh dengan sindiran jenaka dan menggelikan, namun tidak ada sama sekali unsur sarkastik disitu.

cara pembacaannya juga menarik, seperti menyanyi,namun intonasi suara yang dikeluarkan sama sekali enak untuk didengarkan,kadang lirih menyentuh namun tiba tiba dapat berubah seketika menjadi menggelegar dan menghunjam keras.

hal menarik lainnya adalah adanya interaksi antar penonton, mereka juga dapat berpartisipasi mengirimkan cae atau syair yang untuk kemudian akan dibacakan, dan ikut menimbrungi membalas syair lain yang telah dibacakan sebelumnya.

sebenarnya kedua hal ini sudah lazim ada dimasyarakat dan bukan merupakan sesuatu yang baru sama sekali, tetapi tetaplah menjadi alternatif yang menarik saat dunia sudah dipenuhi dengan serbuan serbuan tak jelas yang kesemuanya menjadikan masyarakat menjadi seragam dan tak pernah punya identitas dan pilihan yang jelas selain apa yang telah dibentuk dan ditentukan oleh pasar yang celakanya hanya dikuasai oleh segelintir pemain

budaya budaya lokal seperti inilah yang sebenarnya perlu dijaga,karena budaya lokal bukan berarti hanya busana yang kerap dipakai saat tujuhbelasan tapi kearifanlah yang perlu digali dsi